鞠礤赍
2019-05-22 11:06:04
2016年9月27日下午5:23发布
更新时间2016年9月27日下午5:23

DISERAHTERIMAKAN。 Direktur Perlindungan WNI Kemlu,Lalu Muhammad Iqbal(ujung sebelah kanan)tengah menjelaskan mengenai proses serah terima korban penculikan Abu Sayyaf kepada Wamenlu,A.M Fachir(ujung pojok sebelah kiri)pada Senin,9月26日。 Foto dari Kemlu

DISERAHTERIMAKAN。 Direktur Perlindungan WNI Kemlu,Lalu Muhammad Iqbal(ujung sebelah kanan)tengah menjelaskan mengenai proses serah terima korban penculikan Abu Sayyaf kepada Wamenlu,AM Fachir(ujung pojok sebelah kiri)pada Senin,9月26日。 Foto dari Kemlu

雅加达,印度尼西亚 - Empat ABK Indonesia yang berhasil dibebaskan dari kelompok Abu Sayyaf akhirnya diserahkan kepada keluarga pada Senin,9月26日。 散文serah terima dilakukan oleh Wakil Menteri Luar Negeri,AM Fachir di kantor Kemlu,kepada perwakilan keluarga masing-masing dan disaksikan oleh perwakilan pemerintah daerah Kabupaten Flores Timur tanpa disorot media。

Keempat WNI itu terdiri dari Lorence Koten,Theodorus Kopong,dan Emanuel yang berasal dari Flores Timur,Nusa Tenggara Timur(NTT)serta Herman bin Manggak asal Bulukumba,Sulawesi Selatan。 Mereka tiba di Indonesia pada Sabtu,9月24日dengan didampingi staf Kementerian Luar Negeri。

“Mereka berempat adalah nelayan yang bekerja di kapal ikan马来西亚dan diculik dari perairan马来西亚。 Lorence,Theodorus dan Emanuel diculik di perairan Lahat Datu pada tanggal 9 Juli。 Sementara,Herman bin Manggak diculik di peraian Sandakan pada 3 Agustus lalu,“ujar Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri,Lalu Muhammad Iqbal melalui keterangan tertulis pada Selasa,9月27日。

Berharap mukjizat

Ketiga ABK asal NTT itu akhirnya tiba di Kupang pada hari ini。 Di harapan wartawan yang telah menanti,ketiga ABK mengucapkan rasa terima kasih kepada pemerintah pusat karena telah berupaya maksimal untuk membebaskan mereka。

Mereka juga menyampaikan terima kasih kepada publik印度尼西亚karena telah berdoa琼脂ketiganya tiba dengan selamat。 Salah satu dari 3 ABK,Laurensius mengaku selama 70 hari ditahan oleh kelompok bersenjata Abu Sayyaf,dia dan kedua rekannya mengaku pasrah dan tidak dapat berbuat apa-apa。

Dia mengaku hanya berharap mukjizat agar dapat keluar dari lokasi tempat mereka disekap。

“Kami hanya berharap pada mukjizat,sebab selama tinggal di sana,kami selalu dikasari dan hal tersebut tidak pernah terbayangkan,”ujar Laurensius。

Pengalaman pernah diculik oleh Abu Sayyaf tidak akan pernah dilupakan Laurensius。 Pria yang bertugas sebagai nahkoda itu hanya berharap kini bisa bertemu dengan keluarga mereka di Desa Latonliwo,Kecamatan Tanjung Bunga,Kabupaten Flores Timur。

Bantah beri uang tebusan

DIBEBASKAN。 Tiga warga negara Indonesia dan warga negara Norwegia Kjartan Sekkingstad(kanan)berdiri bersama pemimpin前Pembebasan Nasional Moro(MNLF)Nur Misuari(kiri)dan anggota kelompok pemberontak lainnya setelah para sandera dibebaskan dari kelompok militan Islam Abu Sayyaf jaringan al Qaeda di Jolo,Sulu ,菲律宾,明古,9月18日。 Foto oleh Nickie Butlangan / ANTARA /路透社

DIBEBASKAN。 Tiga warga negara Indonesia dan warga negara Norwegia Kjartan Sekkingstad(kanan)berdiri bersama pemimpin前Pembebasan Nasional Moro(MNLF)Nur Misuari(kiri)dan anggota kelompok pemberontak lainnya setelah para sandera dibebaskan dari kelompok militan Islam Abu Sayyaf jaringan al Qaeda di Jolo,Sulu ,菲律宾,明古,9月18日。 Foto oleh Nickie Butlangan / ANTARA /路透社

Menteri Koordinator bidang politik,hukum dan keamanan Wiranto membantah Indonesia membayar uang tebusan agar WNI yang disekap oleh Abu Sayyaf bisa bebas。 Dia bahkan memastikan tidak akan ada lagi simpang-siur mengenai informasi adanya uang tebusan yang dibayarkan。

“Bahkan,ke depan saya berharap tidak ada penculikan。 Memang,sebelumnya ada kesulitan bagi kami untuk masuk ke wilayah perairan Filipina。 Tapi itu kan masuk(wilayah)kedaulatan negara lain,padahal saya sendiri sudah gemas,“ujar Wiranto ketika menjawab pertanyaan Rappler dalam pertemuan forum Pemimpin Redaksi pada Senin malam,9月26日在雅加达举行。

基尼pemerintah berharap banyak pada patroli terkoordinasi di wilayah perairan antara印度尼西亚,马来西亚dan菲律宾人。

Senada dengan pernyataan Wiranto,Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu juga memberikan bantahan senada ketika kembali dari Filipina selatan pada Minggu malam,9月18日。 Mantan Kepala Staf TNI AD itu menyebut pembebasan 4 WNI itu berkat adanya koordinasi antara Pemerintah Filipina dengan Front Pembebasan Nasional Moro(MNLF)pimpinan Nur Misuari。 Dia lah yang membantu proses negosiasi dengan Abu Sayyaf。

“Yang jelas Pemerintah Indonesia dan Filipina tidak boleh mengeluarkan satu sen pun untuk tebusan。 Kalau pun ada(uang)dari pihak keluarga atau simpatisan untuk operasional pembebasan di sana ya mungkin saja。 Tetapi,saya tidak tahu dan tidak mau tahu,“kata Ryamizard。

Bayar puluhan miliar rupiah uang tebusan

Pernyataan keduanya bertentangan dengan laporan yang diperoleh Rappler secara eksklusif dari militer Filipina。 Dalam laporan tersebut,ASG sudah berhasil mengumpulkan dana sebesar US $ 7,4 juta atau setara Rp 97,5 miliar pada tahun 2016 saja。 Sebanyak US $ 6,7 juta atau setara Rp 89,1 miliar diperoleh dari pembayaran uang tebusan untuk pelaut dari Asia Tenggara。

Sementara,uang tebusan yang dibayarkan Indonesia untuk membebaskan 17 WNI mencapai US $ 2,5 juta atau setara Rp 32,9 miliar。 (BACA: )。

Kini,tersisa 5 WNI lainnya yang masih disandera oleh Abu Sayyaf。 Menurut Kemlu,pemerintah berupaya semaksimal mungkin untuk membebaskan kelima WNI tersebut。 - dengan laporan Uni Lubis,ANTARA / Rappler.com