荀硎街
2019-05-22 12:37:13
发布于2016年9月22日下午2:39
2016年9月22日下午2:58更新

PELANGGARAN HAM。大赦国际menggelar jumpa pers terkait laporan Hak Asasi Manusia(HAM)di Indonesia sepanjang tahun 2015 di Oria Hotel,Jakarta,Rbau,2016 Februari 2016. Foto oleh Febriana Firdaus / Rappler

PELANGGARAN HAM。 大赦国际menggelar jumpa pers terkait laporan Hak Asasi Manusia(HAM)di Indonesia sepanjang tahun 2015 di Oria Hotel,Jakarta,Rbau,2016 Februari 2016. Foto oleh Febriana Firdaus / Rappler

雅加达,印度尼西亚 - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua(DPR Papua)mengaku kecewa dengan keputusan Panglima TNI Jen。 Gatot Nurmantyo mengangkat Mayjen Hartomo sebagai Kepala Badan Inteligen Startegis(BAIS)yang baru。

“Apakah tidak ada anggota TNI yang tidak terlibat dalam pelanggaran HAM sehingga harus memilih Hartomo,”kata anggota DRP Papua Wilhemus Pigai kepata Rappler pada Kamis,9月22日。

Hartomo merupakan satu dari 4 anggota Komando Pasukan Khusus(Kopasus)yang diadili dan dihukum penjara karena terlibat dalam pembunuhan tokoh Papua Theys Eluay。

“Saya sangat kecewa dengan pengangkatan Hartomo sebagai kepala BAIS.Ini menjadi tanda bahwa penyelesaian masalah HAM di Papua belum menemukan titik terang,”kata Laurenzus Kadepa,aggota DPR Papua dari Partai Nasional Demokrat(NasDem),kepata Rappler。

Theys meninggal dunia setelah mengikuti acara di Markas Satgas Tribuana X di Jayapura,Papua pada 2001,di mana Hartomo menjabat sebagai komandan。

Pada 2003,Mahkamah Militer Tinggi III di Surabaya menghukum Hartomo 3,5 tahun penjara dan pemecatan dari dinas militer。 Pada于9月16日在lalu,Hartomo diangkat menjadi Kepala BaIS。

Laurenz mengatakan pengagkatan Hartomo menbuktikan pemerintah,terutama TNI,melindungi pelanggar hak asasi manusia(HAM)dan ini akan memperburuk kondisi HAM di Papua。

“Memang Hartomo diangkat Panglima TNI(Gatot Nurmantyo)tetapi tidak mungkin tanpa diketahui oleh dan restu Presiden Jokowi。itu akan mengurangi kepercayaan masyarakat Papua terhadap janji pemerintah untuk menyelesaikan masalah HAM di Papua,”kata Laurenz。

Saat ini,sebuah tim gabungan sedang menyedlidiki tiga kasus dugaan pelanggaran HAM berat di Papua,yaitu kasus penembakan di Paniai,Wasior,dan Wamena。

Theys,kata Laurenz,bukan tokoh Papua saja,tetapi juga tokoh internasional。

“Karena kasus pembunuhan Theys,penyelesaian pelanggaran HAM di Papua juga dipantau oleh dunia internasional。” - Rappler.com