仉虚怡
2019-05-22 12:01:10
发布时间2016年9月22日上午9:39
更新时间:2016年9月22日上午9:39

Saksi ahli toksikologi forensik dari Australia,Michael Robertson(kanan),memberikan keterangan pada sidang lanjutan kasus dugaan pembunuhan berencana Wayan Mirna Salihin dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat,Jakarta,pada 2016年9月21日。摄影oleh Rivan Awal Lingga / Antara

Saksi ahli toksikologi forensik dari Australia,Michael Robertson(kanan),memberikan keterangan pada sidang lanjutan kasus dugaan pembunuhan berencana Wayan Mirna Salihin dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat,Jakarta,pada 2016年9月21日。摄影oleh Rivan Awal Lingga / Antara

雅加达,印度尼西亚 - Terdakwa tewasnya Wayan Mirna Salihin dalam kasus kopi bersianida,Jessica Kumala Wongso,mendatangkan saksi ahli toksikologi forensik dari Australia,Michael Robertson,dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Rabu,9月21日。

Robertson berpendapat bahwa jika memang Mirna meninggal karena meminum sianida,maka seharusnya zat sianida masih dapat ditemukan di dalam lambung dan hati meskipun sudah diformalin。

“Iya,itu bisa saja terjadi kalau korban sudah diberi formalin。 Tapi saya tetap berpendapat kalau sianida masih bisa ditemukan di lambung dan hati meski sudah dikasih formalin,“kata Robertson dalam kesaksiannya。

Ia menjelaskan kalau penyerapan di lambung dan usus bersifat aktif dan melibatkan pergerakan lambung,sehingga hanya akan terjadi saat seseorang dalam keadaan hidup。 Jika seseorang menelan sianida yang mengakibatkan kematian,menurutnya,zat sianida itu tidak dapat diserap di mana-mana lagi saat sudah meninggal。

“Meskipun sianida dapat terdegradasi atau terurai dalam rentang waktu saat pengambilan sampel dan pengujian sampel dilakukan,maka seharusnya di dalem sampel tersebut tetap dapat ditemukan sianida,”katanya。

Berdasarkan referensi literatur-literatur yang ia pernah baca,Robertson mengatakan semuanya menyebutkan kalau jika seseorang meninggal karena meminum sianida,maka seharusnya ditemukan sianida dalam jumlah yang sangat besar di lambung,tetapi pada kasus Mirna hanya terdapat 0.2mg di dalam lambung。

“Saya belum menemukan studi satu pun yang menjelaskan kalau seseorang meninggal dengan cepat karena sianida masuk ke dalam mulutnya,tetapi tidak ditemukan sianida di dalam lambung,”ujarnya。

Hal ini mengacu pada hasil tes lambung Mirna beberapa menit setelah kematian yang menyatakan tidak terkandung sianida。 Tetapi setelah 3 hari,sianida tersebut baru keluar。

“Karena tidak ada sianida di dalam isi lambung yang diambil tidak berapa lama setelah kematian。 Dan adanya sianida dalam jumlah kecil yang diambil dari isi lambung tiga hari sesudahnya,“kata Robertson。

“Apabila saya asumsikan,kalau metode yang digunakan oleh dua pengujian adalah sama,maka sepertinya penjelasan yang paling mungkin mengenai mengapa adanya sianida di dalam lambung adalah karena terjadinya perubahan setelah kematian atau sianida tersebut terbentuk setelah kematian。”

Ia pun sempat mengkritik hasil eksperimen dan kesimpulan Nur Samran Subandi,pakar toksikologi Labfor Polri yang pernah didatangkan pihak jaksa,salah satunya mengenai perkiraan waktu masuknya sianida ke dalam kopi yang diperkirakan pukul 16:30-16:45 WIB。 Ia juga mempertanyakan metode yang dilakukan oleh Nur Samran。

Jaksa penuntut umum juga sempat mempermasalahkan latar belakang Robertson karena ia pernah terseret dalam kasus pembunuhan berencana di Amerika Serikat。 Selain itu,ia juga pernah menjadi saksi ahli dalam kasus pembunuhan di Australia。

Rencananya,ahli yang akan didengarkan kesaksiannya setelah Robertson adalah Rismon Sianipar,ahli digital forensik yang pernah didatangkan sebelumnya,tetapi ditolak oleh hakim dengan alasan keterangan yang diberikan sudah cukup dan tidak perlu dihadirkan kembali。

Sehingga persidangan pun discors hingga Kamis,9月22日,yang rencananya akan menjadi kesempatan terakhir bagi pihak Jessica untuk membawa saksi-saksi yang dapat meringankannya。 -Rappler.com