邵赢
2019-05-22 13:03:10
2017年11月8日下午12:22发布
更新时间:2017年11月8日下午12:23

POPULER。 Taman Nasional Komodo kini menjadi destinasi pariwisata yang populer sejak lokasi itu masuk ke dalam New Seven Wonder pada tahun 2013. Foto diambil dari situs Kementerian Pariwisata

POPULER。 Taman Nasional Komodo kini menjadi destinasi pariwisata yang populer sejak lokasi itu masuk ke dalam New Seven Wonder pada tahun 2013. Foto diambil dari situs Kementerian Pariwisata

雅加达,印度尼西亚 - Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Timur Ardu Marius Jelamu pola kunjungan wisatawan ke Pulau Komodo di Kabupaten Manggarai Barat harus ditata ulang karena telah mengganggu ekosistem di pulau tersebut。

“Kunjungan wisatawan ke Pulau Komodo memang dikhawatirkan berbagai pihak termasuk wisatawan asing,karena membeludak dan tidak beraturan lagi,”kata Marius di Kupang,Rabu 2017年11月8日。

Ia mengatakan penataan ulang arus kunjungan wisatawan ke Pulau Komodo perlu segera dilakukan agar tidak mengganggu ekosistem serta keselamatan habitat Komodo。

“Saya sudah membicarakan masalah tersebut dengan otoritas Taman Nasional Komodo(TNK),termasuk rencana untuk menyurati pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk memperhatikan mekanisme kunjungan wisatawan ke Pulau Komodo,”katanya。

Taman Nasional Komodo(TNK)kini menjadi salah satu destinasi wisata primadona di Indonesia setelah ditetapkan menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia(New7 Wonders)。

Marius menjelaskan inti dari rencana untuk menyurati pihak kementerian tersebut adalah meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan agar segera mengadakan rapat koordinasi dengan Kementerian Pariwisata dan otoritas TNK untuk mengatur kembali mekanisme kunjungan wisatawan ke Pulau Komodo。

Marius mengatakan arus kunjungan wisatawan ke Pulau Komodo yang tidak beraturan ini sudah dikeluhkan oleh wisatawan internasional ketika diadakan Komodo Travel Mart beberapa waktu lalu。

“Banyak sekali masukan kepada saya dari turis luar negeri yang meminta agar arus kunjungan wisatawan ditata kembali,agar tidak membludak dan tak beraturan seperti yang berlangsung saat ini,”katanya。

Ia menambahkan wisatawan internasional mengkhawatirkan membludaknya arus kunjungan ke Komodo,karena sangat mengganggu ekosistem satwa di pulau tersebut serta dapat memancing agresifitas binatang tersebut。

“Agresifitas biawak raksasa itu memang sulit ditebak.Namun,yang dikhawatirkan saat mereka sudah mulai kekurangan binatang pemangsa.Dalam kondisi seperti ini,para pengunjung bisa menjadi target komodo,”katanya。

Menurut dia,pola kunjungan wisatawan ke Pulau Komodo perlu diatur terutama berkaitan dengan waktu serta jumlah pengunjung yang ditata dalam bentuk rombongan。

Misalnya,kunjungan pertama dari jam sekian sampai ke jam sekian,kemudian ada jedah waktu baru dilanjutkan dengan kunjungan berikutnya。

Kemudian,jumlah kunjungan wisatawan per hari ke Komodo juga harus dibatasi agar tidak merusak ekosistem yang ada di Komodo yang menjadi habitatnya binatang purba langka raksasa itu。

“Bila perlu kunjungan wisatawan dilakukan dengan pola pendaftaran,sehingga sambil menunggu giliran,wisatawan bisa berkunjung ke destinasi lainnya yang ada di sekitar Komodo dan Labuan Bajo,”katanya mencontohkan。

Menurut Marius,penataan ulang bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke Pulau Komodo itu semata-mata untuk menjaga kelestarian ekosistem di pulau itu,agar tidak mengancam keselamatan binatang purba yang langka itu。

“Kita tentu tidak inginkan agar kondisi satwa komodo yang masuk dalam keajaiban dunia ini pada akhirnya menjadi stres,jatuh sakit,dan semakin berkurang akibat banyaknya kunjungan wisatawan yang mengganggu habitatnya di Pulau Komodo serta beberapa pulau lainnya yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Komodo,”katanya menegaskan。 -dengan laporan ANTARA / Rappler