訾盗云
2019-05-22 01:21:14
发布时间2016年9月21日上午9:18
2016年9月21日下午10:29更新

Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat saat deklarasi calon gubernur dan wakil gubernur。 Foto oleh(Widodo S Jusuf)/ ANTARA。

Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat saat deklarasi calon gubernur dan wakil gubernur。 Foto oleh(Widodo S Jusuf)/ ANTARA。

雅加达,印度尼西亚 - Pengamat politik Charta Politika,Yunarto Wijaya,mengatakan dukungan PDI Perjuangan kepada pasangan Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat membuat pasangan tersebut kini berada di atas angin。

“Secara kuantitatif dan kualitatif,pasangan ini pasti di atas angin,”kata Yunarto di sela acara pendeklarasian pasangan Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat oleh PDI Perjuangan di Menteng,Jakarta,Selasa malam,2016年9月20日。

Masuknya PDI Perjuangan memang membuat dukungan kepada Ahok,sapaan Basuki Tjahaja Purnama,dan Djarot semakin kokoh。 Sebab sebelumnya mereka telah didukung oleh Partai Golar,Hanura,dan Nasional Demokrat。

Dengan dukungan keempat partai ini,Ahok-Djarot kini mengantongi 54 kursi dari 106 jumlah kursi DPRD DKI雅加达。 Padahal,untuk maju dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI雅加达2017,mereka hanya membutuhkan 22 kursi。

Tak mengejutkan jika Sekretaris Jenderal Partai Golkar,Idrus Marham,menargetkan pasangan ini menang dalam 。 “Kami juga melihat hasil survei yang ada,”kata Idrus di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat,Selasa 2016年9月19日。

Faktor X jadi pengganjal

Namun bukan berarti jalan Ahok-Djarot menuju balai kota akan mulus。 Sebab,kata Yunarto,ada faktor X yang bisa membuat keduanya tersandung。 Faktor ini tak lain cara berkomunikasi Ahok。 “lawan-lawan poltiknya bisa saja menjadikan faktor x ini sebagai senjata,”kata Yunarto。

Faktor X lainnya adalah ketidakkonsistenan antara tingkat elektabilitas Ahok terhadap tingkat kepuasan publik terhadap kinerjanya。 Dalam beberapa suvei,Yunarto melanjutkan,tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Ahok selalu berada di atas 65 persen。

Namun,pada saat bersamaan,tingkat elektabilitas atau keterpilihannya hanya 45-55 persen。 Karena itu Ahok harus benar-benar mencermati gerakan“asal bukan Ahok”yang mulai beredar di media sosial jika tak ingin tingkat elektabilitasnya terus tergerus。

Koalisi gemuk bisa jadi penyandung

Masuknya Golkar dalam gerbong Ahok-Djarot membuat kedua pasangan itu kini didukung empat partai,yakni PDI Perjuangan,Hanura,Golkar,dan NasDem。 Pada satu sisi,dukungan besar ini akan sangat menguntungkan。

Namun pada sisi lain dukungan partai-partai ini juga bisa menyulitkan。 Sebab semakin besar pendukung,semakin sulit pula melakukan konsolidasi mengingat partai-partai pendukung tentu menyimpan harapan berbeda kepada pasangan calon。

Apalagi dalam koalisi Ahok-Djarot ini ada dua partai besar,yakni PDI Perjuangan dan Golkar。 Sangat mungkin Golkar,serta Hanura dan NasDem yang memberikan dukungan lebih dulu,merasa diri mereka lebih penting dari PDI Perjuangan yang masuk belakangan。

“Konsolidasi antar partai harus betul-betul diperhatiakan dan dibuat format yang bisa memungkinan semuanya merasa memiliki peran,sehingga mereka bisa bekerja,”kata Yunarto。 - -Rappler.com