仉虚怡
2019-05-22 14:53:14
2016年9月20日上午10:03发布
2016年9月20日上午10:16更新

SIDANG UMUM PBB。 Aktivis buruh migran asal Indonesia,Eni Lestari,berbicara di hadapan ratusan pemimpin negara di sesi pembukaan KTT PBB mengenai pengungsi dan migrasi di New York,Amerika Serikat,pada Senin pagi,9月19日(waktu setempat)。 Foto:屏幕截图dari视频PBB

SIDANG UMUM PBB。 Aktivis buruh migran asal Indonesia,Eni Lestari,berbicara di hadapan ratusan pemimpin negara di sesi pembukaan KTT PBB mengenai pengungsi dan migrasi di New York,Amerika Serikat,pada Senin pagi,9月19日(waktu setempat)。 Foto:屏幕截图dari视频PBB

印度尼西亚雅加达 - “Kami memiliki pesan yang jelas:dengarkan kami,jangan berbicara mengenai kami tanpa keberadaan kami”。

Pesan ini disampaikan secara lantang oleh pejuang buruh migran asal Indonesia,Eni Lestari di KTT PBB mengenai pengungsi dan migran di New York,Amerika Serikat,pada Senin pagi,9月19日(waktu setempat)。 Di hadapan ratusan pemimpin negara termasuk Presiden Amerika Serikat,Barack Obama,perempuan asal Kediri itu berkisah mengenai realita yang dialami sekitar 244 juta buruh migran di seluruh dunia。

“Yang terjadi,sebagian besar dari kami malah terjebak dalam praktik perbudakan,perdagangan manusia,dan rentan dianiaya。 Banyak di antara kami yang akhirnya menghilang,bahkan mati,“ujar Eni yang pada Senin pagi mengenakan kebaya berwarna merah。

Ratusan juta orang bekerja sebagai buruh migran,karena berharap bisa memperbaiki nasib mereka dan keluarga。 Tetapi,harapan indah itu justru berubah menjadi mimpi buruk karena dipicu oleh sistem yang lebih mengutamakan keuntungan。

“Masa depan kami suram。 Oleh sebab itu,kami berharap ada perlindungan dan pelayanan。 Namun,pada kenyataannya kami malah seorang diri untuk mengatasi penderitaan tersebut,“tutur Eni yang sudah menjadi buruh migran selama 16 tahun。

(BACA: )

Hal tersebut di mata Eni semakin menjadi ironi karena pemerintah justru beranggapan pengiriman buruh migran ke luar negeri bisa menambah pemasukan ke kas negara。 Dalam pengalamannya,bermigrasi ke negara lain tidak selalu menjamin kehidupan buruh migran akan selalu lebih baik saat kembali ke Tanah Air。

“Tidak peduli betapa kami sudah bekerja keras,kami tidak pernah diakui sebagai sebagai manusia yang bermartabat atau setara,”kata Eni。

Gandeng pemerintah

Di mata Eni dan ratusan juta buruh migran lainnya,jika pemerintah ingin mencari solusi bagi permasalahan isu ini,maka pemerintah harus turut melibatkan mereka。

“Jangan bicara mengenai nasib kami,tanpa melibatkan kami,”tegas Eni。

Dia berharap bersama dengan pemerintah bisa mencari solusi untuk melindungi kaum buruh。 Solusi yang ditawarkan双关语,Eni melanjutkan,jangan hanya sekedar lewat begitu saja di berbagai konvensi internasional。

“Mari bersama-sama kita memastikan solusi perlindungan bagi kaum buruh migran adalah solusi yang nyata dan dapat diimplementasikan。 Jangan sampai solusi itu kembali menciptakan eksploitasi,konflik baru dan kemiskinan。 Mari bekerja bersama kami,“tutur dia。

Buruh migran pertama印度尼西亚

Eni menjadi buruh migran pertama Indonesia yang berhasil memperoleh kesempatan untuk berbicara di hadapan majelis Sidang Umum PBB。 Mewakili organisasi International Migrant's Aliance(IMA),Eni berbagi podium dengan aktivis dari Irak,Nadia Taha dan aktivis Suriah,Mohammed Badran。

Ini merupakan kali pertama PBB memberikan fokus untuk mencari solusi atas permasalahan migrasi dan pengungsi。 Melalui KTT tersebut,PBB bermaksud untuk mencari langkah pendekatan yang lebih terkoordinir dan manusiawi di antara negara anggota。

Berdasarkan laporan PBB di bulan Juni lalu,jumlah pengungsi dan warga yang terpaksa meninggalkan rumah mereka mencapai rekor baru di seluruh dunia yakni 65,3 juta di akhir tahun 2015. Ini merupakan angka tertinggi setelah Perang Dunia II。

Eni merupakan potret mayoritas buruh migran yang terpaksa meninggalkan Indonesia untuk mendukung perekonomian keluarga。 Tetapi,begitu tiba di Hong Kong tahun 1999 lalu,dia malah menerima tindakan tak manusiawi dari majikannya。

Ketidaktahuan informasi disebut menjadi penyebab dia rentan mengalami tindakan itu。 Kini,dia berupaya membantu menyuarakan agar ada perbaikan perlindungan bagi kaum buruh migran di seluruh dunia。 - Rappler.com